Kamis, 26 Juli 2012

SHUTTER ISLAND

Shutter Island

Saat berkunjung ke rumah seorang teman lama,gw di rekomendasiin sebuah film berjudul Shutter Island ,,sebuah film thriller Amerika Serikat tahun 2010,kebetulan dia tahu kalo gw suka dengan film film yang berbau misteri dan detektif2 an kyak gini,film ini di bintangi salah satu aktor favorit gw yaitu si ganteng leonardo di caprio..dan gw kira dia emang pas banget berperan sebagai  Teddy Daniels,Seorang marshal AS yang bersama seorang rekannya yg bernama Chuck Aule (Mark Ruffalo) ditugaskan menyelidiki hilangnya seorang pasien dari sebuah rumah sakit jiwa untuk penjahat di sebuah pulau di Massachusetts..

dari awal suasana di film ini emang  mencekam ,di tambah dengan musik latar yang menegangkan.alur ceritanya pun membuat gw selalu bertanya tanya ap yang akan terjadi selanjutnya..
Pada awal film, kita pasti mengira kasus  hilangnya seorang pasien yg bernama Rachel Solando merupakan kejahatan konspirasi yang dilakukan orang-orang dalam. Rumah sakit itu pun hanyalah kedok dari proyek eksperimen pikiran yang dijaga ketat oleh sekumpulan sipir bersenjata. Sebuah rumah jagal yang berkedok rumah sakit. Teddy pun mengendus hal-hal ganjil di pulau itu. Apalagi para petugas di sana tampak enggan berkomentar dan menghalang-halangi investigasi. Bersama Chuck, ia mulai menginterogasi penjaga dan sahabat Rachel yang terkait dengan malam raibnya Rachel.
Babak selanjutnya penuh kejutan. Hal ini tampak dengan berubahnya perilaku Teddy yang sering terserang migrain dadakan. Ia pun sering berhalusinasi dengan masa lalunya. Migrain ini sebenarnya sudah tampil di awal cerita—ketika ia masih di dalam sebuah feri di perjalanan ke Shutter Island. Ia mencoba menenangkan diri ketika berada di tengah lautan lepas. “Percayalah, ini hanyalah air,” begitu katanya.
Teddy pun dibombardir dengan mimpi buruk. Ia kembali pada kepingan-kepingan masa lalunya ketika bertugas sebagai serdadu dalam pembebasan Dachau dari kekejaman Nazi. Bayangan mayat yang bergelimpangan, tahanan Yahudi yang sekarat, dan seorang kolonel Nazi yang bunuh diri menjadi mimpi menyeramkan. Terlebih lagi, mimpi buruk didatangi mendiang istrinya, Dolores (Michelle Williams), yang awalnya diceritakan mati akibat apartemen tempat mereka terbakar (tepatnya dibakar) oleh seorang lelaki pembunuh bernama Andrew Laeddis yang menurut istrinya masih berada di penjara itu. Ia pun terobsesi mencari sang pembunuh.
Memasuki babak ini, film besutan Martin Scorsese mulai tampil penuh labirin. menggoyahkan asumsi awal kita. Alurnya yang awalnya lambat, mulai bergerak lincah, jamak suspensi, dan penuh lompatan. Di satu sisi, film ini masih menceritakan upaya marshal melanjutkan investigasi yang semakin dikuatkan dengan keganjilan-keganjilan dari para petugas. Di satu sisi, film ini menampilkan secara meloncat mimpi-mimpi buruk Teddy. Dolores muncul lagi menghantuinya dan mendesaknya untuk pergi dari tempat itu kecuali kalau dia mau mati. Sementara, badai yang menumbangkan pepohonan ditampilkan untuk menambah aksen angker latar pulau itu. Termasuk kabar bahwa tidak akan ada kapal yang merapat—yang diyakini Teddy sebagai satu-satunya cara untuk lari dari pulau keparat itu.
Batasan waras dan tidak waras mulai pudar. Sulit dibedakan. Siapa yang gila dan siapa yang jahat juga menjadi rancu. dan kita pun di paksa untuk menebak nebak.

Tapi, sang sutradara (Martin Scorsese) lihai membawa penonton kembali ke  asumsi awal bahwa Teddy seorang marshal waras yang sedang bekerja keras mengungkapkan konspirasi jahat. Ia seorang detektif yang malang yang dijebak dalam kompleks bangunan dengan arsitektur penuh intimidasi itu. Di tengah investigasinya, Dokter Cawley bersama Dokter Naehring mengabarkan Rachel sudah ditemukan. Teddy pun dipertemukan dengan Rachel. Usai pertemuan itu, Teddy diserang migrain dan halusiansi. Termasuk ketika ia menemukan dan mengejar Andrew Laeddis di sebuah bangunan terpisah. Pengejaran itu mempertemukannya pada sosok George Noyce—mantan pasien Ashecliffe yang kembali lagi karena kasus pembunuhan. Noyce membeberkan informasi tentang sebuah mercusuar di tepi pulau yang digunakan untuk eksperimen bedah kepala. Dia pula yang memberitahu Teddy bahwa dirinya dijebak di pulau dan meyakinkan dirinya hanya seorang diri dalam tugas investigasi itu. Saat itu, Teddy sudah berpisah dari Chuck Aule. Ia pun mulai meragukan Chuck Aule.
Hal ini dikuatkan saat sedang mencari Chuck yang hilang di karang, ia bertemu seorang perempuan yang ia yakini sebagai Rachel Solando yang sebenarnya. Perempuan ini bersembunyi di sebuah gua di dinding tebing. Perempuan itu meyakinkan dirinya  dalam bahaya. Ia pun menegaskan tidak ada lagi teman di pulau itu. Termasuk memperingatkan Teddy untuk tidak menerima rokok maupun minuman dari mereka karena sudah diberi obat khusus untuk mengontrol pikiran. Pertemuan dengan Rachel membuat Teddy semakin yakin adanya konspirasi bohong dari Dokter Cawley dan antek-anteknya.
Sampai akhirnya, Teddy pun memutuskan menerobos laut menuju mercusuar guna membongkar eksperimen jahat seperti dikatakan Noyce. Usai melumpuhkan dan merebut senapan milik penjaga, ia pun menerobos masuk sampai ujung mercusuar. Di sana, Dokter Cawley sudah menunggu di balik meja. Teddy langsung menodongkan senapan ke Cawley. Cawley mengatakan senapan itu kosong dan memang terbukti kosong. Tanpa lama, seorang masuk. Tak lain Chuck Aule yang sempat sebelumnya ia lihat terempas di karang. Chuck mendekati Teddy sambil mengenalkan diri sebagai Dokter Sheehan—dokter yang selama ini mendampinginya menjalani masa terapi dan mengantarnya ke Shutter Island. Martin Scorsese mengguncang kemapanan berpikir penonton. Martin seakan mau membalik asumsi lagi  bahwa Teddy benar-benar seorang sakit jiwa dan bukan seorang marshal waras yang sedang membongkar konspirasi jahat. Kembali batasan waras dan gila menjadi tak jelas.
Di menit terakhir, digambarkan Teddy sedang bercakap dengan Dokter Sheehan, dan memanggilnya dengan Chuck Aule lagi. Teddy masih menganggapnya sebagai mitra untuk meneruskan investigasinya. Lalu Sheehan menatap dokter Cawley yang berdiri jauh di taman sambil menggelengkan kepala—seolah memberikan sebuah kode tertentu yang sangat multitafsir bagi penonton. Teddy berjalan menuju taman disusul beberapa petugas rumah sakit. Teddy sempat melontarkan kalimat sakti: “lebih baik tetap hidup sebagai monster atau mati sebagai orang baik.”  Tamat!

 Teddy Daniels itu seorang sakit jiwa atau seorang marshal waras yang sedang melakukan investigasi dan terjebak di Shutter Island?  kalo menurut gw sih sebenarnya si teddy itu emang gila tapi di akhir fil dia sudah sembuh tapi dia memilih mati daripada ntar nya kumat lagi gilanya,hehe..


sampai saat ini klo ad waktu senggang ,gw masih nonton ni film..terkadang gw ajak beberapa teman buat nonton bareng,jadi ada topik perdebatan sehabis nonton,hehe..apalagi kalau nonton sambil party magic mushroom,mungkin bakalan jadi gila beneran yah..:D cigarettes boss !!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar