Shutter Island
Saat berkunjung ke rumah seorang teman lama,gw di rekomendasiin sebuah film berjudul Shutter Island ,,sebuah film thriller Amerika Serikat tahun 2010,kebetulan dia tahu kalo gw suka dengan film film yang berbau misteri dan detektif2 an kyak gini,film ini di bintangi salah satu aktor favorit gw yaitu si ganteng leonardo di caprio..dan gw kira dia emang pas banget berperan sebagai Teddy Daniels,Seorang marshal AS yang bersama seorang rekannya yg bernama Chuck Aule (Mark Ruffalo) ditugaskan menyelidiki hilangnya seorang pasien
dari sebuah rumah sakit jiwa untuk penjahat di sebuah pulau di Massachusetts..
dari awal suasana di film ini emang mencekam ,di tambah dengan musik latar yang menegangkan.alur ceritanya pun membuat gw selalu bertanya tanya ap yang akan terjadi selanjutnya..
Pada awal film, kita pasti mengira kasus hilangnya seorang pasien yg bernama Rachel Solando merupakan
kejahatan konspirasi yang dilakukan orang-orang dalam. Rumah sakit itu pun hanyalah
kedok dari proyek eksperimen pikiran yang dijaga ketat oleh sekumpulan
sipir bersenjata. Sebuah rumah jagal yang berkedok rumah sakit. Teddy
pun mengendus hal-hal ganjil di pulau itu. Apalagi para petugas di sana
tampak enggan berkomentar dan menghalang-halangi investigasi. Bersama
Chuck, ia mulai menginterogasi penjaga dan sahabat Rachel yang terkait
dengan malam raibnya Rachel.
Babak selanjutnya penuh kejutan. Hal ini tampak dengan berubahnya
perilaku Teddy yang sering terserang migrain dadakan. Ia pun sering
berhalusinasi dengan masa lalunya. Migrain ini sebenarnya sudah tampil
di awal cerita—ketika ia masih di dalam sebuah feri di perjalanan ke
Shutter Island. Ia mencoba menenangkan diri ketika berada di tengah
lautan lepas. “Percayalah, ini hanyalah air,” begitu katanya.
Teddy pun dibombardir dengan mimpi buruk. Ia kembali pada
kepingan-kepingan masa lalunya ketika bertugas sebagai serdadu dalam
pembebasan Dachau dari kekejaman Nazi. Bayangan mayat yang
bergelimpangan, tahanan Yahudi yang sekarat, dan seorang kolonel Nazi
yang bunuh diri menjadi mimpi menyeramkan. Terlebih lagi, mimpi buruk
didatangi mendiang istrinya, Dolores (Michelle Williams), yang awalnya
diceritakan mati akibat apartemen tempat mereka terbakar (tepatnya
dibakar) oleh seorang lelaki pembunuh bernama Andrew Laeddis yang
menurut istrinya masih berada di penjara itu. Ia pun terobsesi mencari
sang pembunuh.
Memasuki babak ini, film besutan Martin Scorsese mulai tampil penuh
labirin. menggoyahkan asumsi awal kita. Alurnya yang awalnya lambat,
mulai bergerak lincah, jamak suspensi, dan penuh lompatan. Di satu sisi,
film ini masih menceritakan upaya marshal melanjutkan investigasi yang
semakin dikuatkan dengan keganjilan-keganjilan dari para petugas. Di
satu sisi, film ini menampilkan secara meloncat mimpi-mimpi buruk Teddy.
Dolores muncul lagi menghantuinya dan mendesaknya untuk pergi dari
tempat itu kecuali kalau dia mau mati. Sementara, badai yang
menumbangkan pepohonan ditampilkan untuk menambah aksen angker latar
pulau itu. Termasuk kabar bahwa tidak akan ada kapal yang merapat—yang
diyakini Teddy sebagai satu-satunya cara untuk lari dari pulau keparat
itu.
Batasan waras dan tidak waras mulai pudar. Sulit dibedakan. Siapa
yang gila dan siapa yang jahat juga menjadi rancu. dan kita pun di paksa untuk menebak nebak.
Tapi, sang sutradara (Martin Scorsese) lihai membawa penonton kembali ke asumsi awal
bahwa Teddy seorang marshal waras yang sedang bekerja keras
mengungkapkan konspirasi jahat. Ia seorang detektif yang malang yang
dijebak dalam kompleks bangunan dengan arsitektur penuh intimidasi itu.
Di tengah investigasinya, Dokter Cawley bersama Dokter Naehring
mengabarkan Rachel sudah ditemukan. Teddy pun dipertemukan dengan
Rachel. Usai pertemuan itu, Teddy diserang migrain dan halusiansi.
Termasuk ketika ia menemukan dan mengejar Andrew Laeddis di sebuah
bangunan terpisah. Pengejaran itu mempertemukannya pada sosok George
Noyce—mantan pasien Ashecliffe yang kembali lagi karena kasus
pembunuhan. Noyce membeberkan informasi tentang sebuah mercusuar di tepi
pulau yang digunakan untuk eksperimen bedah kepala. Dia pula yang
memberitahu Teddy bahwa dirinya dijebak di pulau dan meyakinkan dirinya
hanya seorang diri dalam tugas investigasi itu. Saat itu, Teddy sudah
berpisah dari Chuck Aule. Ia pun mulai meragukan Chuck Aule.
Hal ini dikuatkan saat sedang mencari Chuck yang hilang di karang, ia
bertemu seorang perempuan yang ia yakini sebagai Rachel Solando yang
sebenarnya. Perempuan ini bersembunyi di sebuah gua di dinding tebing.
Perempuan itu meyakinkan dirinya dalam bahaya. Ia pun menegaskan tidak
ada lagi teman di pulau itu. Termasuk memperingatkan Teddy untuk tidak
menerima rokok maupun minuman dari mereka karena sudah diberi obat
khusus untuk mengontrol pikiran. Pertemuan dengan Rachel membuat Teddy
semakin yakin adanya konspirasi bohong dari Dokter Cawley dan
antek-anteknya.
Sampai
akhirnya, Teddy pun memutuskan menerobos laut menuju mercusuar guna
membongkar eksperimen jahat seperti dikatakan Noyce. Usai melumpuhkan
dan merebut senapan milik penjaga, ia pun menerobos masuk sampai ujung
mercusuar. Di sana, Dokter Cawley sudah menunggu di balik meja. Teddy
langsung menodongkan senapan ke Cawley. Cawley mengatakan senapan itu
kosong dan memang terbukti kosong. Tanpa lama, seorang masuk. Tak lain
Chuck Aule yang sempat sebelumnya ia lihat terempas di karang. Chuck
mendekati Teddy sambil mengenalkan diri sebagai Dokter Sheehan—dokter
yang selama ini mendampinginya menjalani masa terapi dan mengantarnya ke
Shutter Island. Martin Scorsese mengguncang kemapanan berpikir
penonton. Martin seakan mau membalik asumsi lagi bahwa Teddy
benar-benar seorang sakit jiwa dan bukan seorang marshal waras yang
sedang membongkar konspirasi jahat. Kembali batasan waras dan gila
menjadi tak jelas.
Di menit terakhir, digambarkan Teddy sedang bercakap dengan Dokter
Sheehan, dan memanggilnya dengan Chuck Aule lagi. Teddy masih
menganggapnya sebagai mitra untuk meneruskan investigasinya. Lalu
Sheehan menatap dokter Cawley yang berdiri jauh di taman sambil
menggelengkan kepala—seolah memberikan sebuah kode tertentu yang sangat
multitafsir bagi penonton. Teddy berjalan menuju taman disusul beberapa
petugas rumah sakit. Teddy sempat melontarkan kalimat sakti: “lebih baik
tetap hidup sebagai monster atau mati sebagai orang baik.” Tamat!
Teddy Daniels itu seorang sakit jiwa atau seorang
marshal waras yang sedang melakukan investigasi dan terjebak di Shutter
Island? kalo menurut gw sih sebenarnya si teddy itu emang gila tapi di akhir fil dia sudah sembuh tapi dia memilih mati daripada ntar nya kumat lagi gilanya,hehe..
sampai saat ini klo ad waktu senggang ,gw masih nonton ni film..terkadang gw ajak beberapa teman buat nonton bareng,jadi ada topik perdebatan sehabis nonton,hehe..apalagi kalau nonton sambil party magic mushroom,mungkin bakalan jadi gila beneran yah..:D cigarettes boss !!!